Rabu, 09 Januari 2013

Pandangan Pertama : Jalanku Berawal dari Peta

14 Agustus 2005, kuinjakkan kakiku untuk pertama kali di kota itu. Kota di mana aku belajar tentang hidup dan bertahan hidup. Di mana aku bertemu dengan orang-orang hebat yang secara tidak langsung telah mengajariku tentang banyak hal. Kota yang sampai sekarang masih membuatku rindu untuk menjejakkan kaki ke sana, mengelilingi jalan-jalannya dan menghirup sejuk udaranya.

Ah...aku rindu akan kota kecil itu, kota yang berada di bagian timur pulau Jawa. Kota yang memiliki sejuta gumuk dan memiliki perpaduan beberapa budaya. Kota di mana selama kurang lebih enam tahun aku meminum airnya dan kuhirup udaranya. Jember, aku rindu suasana hangat kotamu.

Sekitar tujuh setengah tahun yang lalu aku datang pertama kali di kota Jember. Tapi jauh sebelum itu aku telah mengenal dua nama tempat di kota itu. Bukan dari kunjungan langsung, tapi hanya dari cerita seorang teman sewaktu aku duduk di bangku sekolah dasar.

Waktu itu aku dan teman-temanku sering sekali bermain tebak-tebakan nama kota di sebuah peta. Dimana satu orang bertugas menyebutkan nama sebuah kota, sedangkan yang satu lagi bertugas menemukan nama kota itu di peta. Saat itu temank berujar bahwa liburan tempo hari dia mengunjungi saudaranya di Kencong dan Puger. Dia pun menunjukkan nama dua tempat itu di peta dan aku baru pertama kali tahu ada nama kedua tempat itu di dalam peta. Entah sihir apa yang dia gunakan dan mantra apa yang dia rapalkan. Semenjak saat itu aku selalu ingin melihat dua nama tempat itu di peta. Aku terobsesi.

Aku memikirkan seperti apa Kencong itu? seperti apa Puger itu? setiap kali aku membuka peta, mataku selalu tertuju pada dua nama tempat itu. Aku semakin penasaran dengan pemikiranku sendiri akan suasana kedua tempat itu. Hingga akhirnya menjadi kebiasaan bagiku untuk melihat nama Kencong dan Puger dalam peta. Kejadian ini pun berlangsung cukup lama, hingga aku duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Setelah lulus dari SMP aku sedikit lupa dan sudah tidak melakoni kebiasaan yang sedari SD kulakukan. Aku pun juga seperti sudah tidak peduli terhadap pesona fantasi Kencong dan Puger di dalam peta.

Sewaktu memilih perguruan tinggi selepas lulus SMA, aku memilih salah satu perguruan tinggi di Surabaya dan Jember. Aku memilih salah satu perguruan tinggi di Surabaya karena aku tertarik dengan jurusannya. Dan kenapa aku memilih Jember? aku memilih perguruan tinggi di Jember karena grade-nya di bawah perguruan tinggi yang ku pilih di Surabaya. Jadi seumpama aku gagal di pilihan pertama, setidaknya masih ada yang nyanthol di pilihanku yang kedua.

Mungkin apa yang kita pikirkan merupakan doa secara tidak sadar. Dan doa secara tidak sadar itu terkabul. Aku gagal di pilihan pertama. Tapi aku lolos di pilihan kedua. Alhasil, aku memulai kehidupanku jauh dari orang tua dan terasing di Jember. Memulai sebagai anak rantau di kota kecil Jember. Mencoba mengenal, dan mencoba mencintai kota itu.

Setelah beberapa bulan di Jember, aku baru menyadari bahwa dulu aku pernah terobsesi dengan nama tempat di dalam peta. Ya, Kencong dan Puger sekitar sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu aku baru tahu kalau itu adalah nama dua kecamatan di kabupaten Jember. Serasa di bawa berputar kembali ke masa lalu, waktu bermain tebakan nama kota dalam peta, saat temanku bercerita tentang liburannya Kencong dan Puger. Ketika kubuka lembaran peta dan selalu kupandangi nama dua tempat itu. Ketika aku membayangkan seperti apa suasana Kencong dan Puger. Dan aku sekarang telah berada di pusat kota Jember. Sudah jauh lebih dekat secara jarak dengan kedua tempat itu. 

Dan waktu pun berlalu, entah bulan apa di tahun 2006 aku telah berada di atas tanah Puger dan Kencong. Sekarang aku tidak hanya melihat dari dalam peta dan membayangkan serta menerka seperti apa suasana kedua tempat itu. Aku telah datang secara langsung dan menapakkan kakiku di atasnya. Mungkin seperti ini rasanya ketika temanku dulu berada di sini, mungkin juga udara yang kuhirup ini yang dulu juga pernah dihirup oleh temanku. Ah...indah sekali rasanya berada di dua tempat ini. Tempat yang dulu hanya bisa kujangkau dengan mata lewat selembar peta. Dan sekarang aku sudah berada di sana.

Saat itu aku berterimakasih kepada temanku yang sudah membuat aku penasaran selama bertahun-tahun akan tempat itu. Memberikanku kebiasaan yang sedikit aneh tapi secara tidak langsung telah menjadi mimpi kecilku yang telah terpenuhi. Dan memberiku Pandangan Pertama di dalam peta dan akhirnya menjadi pandangan secara nyata.

Kencong, Puger dan akhirnya Jember.......


Peta jawa timur diambil dari sini



* * * * * *

Tulisan ini di ikutkan dalam Give Away

Selasa, 18 Desember 2012

Hujan pun merindu

Hujan ini masih sama
Ketika kupinjam hatimu kala itu

Awan pun semburat abu-abu
Dan senja selalu menorehkan kisah
Masih tentang hujan
Saat kubawa hati ini pulang ke sangkarku
Ah....bunyi geletik jatuh tahi kambing masih mengiringi langkah gontaiku
Sama seperti suara hujan di senja itu

Tak perlu kau ragu sayang...
Semua akan baik-baik saja

Di sini masih sama seperti senja kala itu
Temaram lampu jalan selalu di serbu anai-anai
Bergerumbul dan masih saling berebut
Tenang saja sayang....
Mereka hanya berpesta cahaya
Sebentar saja sayap-sayap itu akan lepas
Jatuh....dan akan merayap lagi

Hatimu masih ku genggam sayang
Saat rindu ini semakin meletup-letup
Membuncah keluar membasahi dada ini


Aroma peluh ini semakin pekat sayang
Dan aku pun semakin rindu
Akanmu...

Hatimu masih erat kugenggam sayang
Saat hujan ini menghiasi senja di bawah temaram lampu jalan
Aku pun merindumu....



Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi

Selasa, 11 Desember 2012

Manisnya saat itu

Berbicara soal yang manis-manis, pasti tak akan jauh-jauh dari wajahku yang hitam manis ini. Kalau dilihat-lihat wajahku ini tidaklah tampan tapi memang manis. Meskipun sama sekali tidak ada orang yang pernah mengatakannya. Ya mungkin karena mereka enggan untuk mengatakannya, atau mungkin juga memang kenyataannya wajahku memang semanis kopi tanpa gula.

Tapi bukan itu yang akan kuceritakan di sini. Ini hanya sepenggal kisah legit mengenai seorang teman.

Pada hari sabtu (8/12/2012) kemarin, Indonesia sedang dilanda demam salah seorang artis India terkenal. Ya, Shahrukh Khan datang ke Indonesia dan mengadakan konser di Indonesia. Para penggemarnya pun terlihat sangat antusias untuk melihat secara langsung artis favorit mereka. Mereka pun tak segan-segan merogoh kocek mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tak sedikit pula yang mendandani diri  mereka layaknya orang-orang Hindia.

Aku hanya duduk diam di rumah menonton lewat siaran televisi. Sebenarnya aku juga penggemar bintang Bollywood tersebut. Aku kagum akan pesona yang dia pancarkan sehingga dapat membuai masyarakat Indonesia seperti ini. Aku termenung, "Mungkin nek awakmu sik nang kene, awakmu mesti seneng isa ndelok konsere Shahrukh Khan nang Indonesia masia cuma lewat TV". (Mungkin kalau kamu masih di sini, kamu pasti seneng bisa lihat konsernya Shahrukh Khan meskipun hanya di TV).

Itu yang ku ucapkan dalam hati waktu itu. Salah seorang sahabat, tetangga, teman kecilku sangat tergila-gila dengan Shahrukh Khan. Bahkan dia selalu mengikuti film-film di mana Shahrukh Khan bermain di sana. Poster-poster Shahrukh Khan pun juga terpampang di dinding kamarnya. Ya, dia adalah penggemar berat bintang Bollywood itu.

Tapi pada waktu konser Shahrukh Khan kemarin dia tidak bisa menontonnya di TV, atau bahkan dia sudah tidak pernah tahu lagi seperti apa idolanya sekarang. Dia sudah tidak ada di sini lagi sekitar tujuh tahun yang lalu. Sakit paru-paru yang sudah diderita sejak dia kecil telah merangkulnya untuk berjalan ke Rahmatullah.

Dia adalah teman bermainku waktu kecil. Namanya Bambang Irawan. Usianya sekitar tiga tahun lebih tua dariku. Terakhir aku melihatnya saat aku lulus dari SMA dan aku memutuskan untuk pergi ke Jember. Sampai sekarang pun aku masih ingat saat dulu bermain, bercanda dan bertengkar bersamanya.

Ketika aku masih SMP dan waktu itu satu hari sebelum bulan Ramadhan. Kami berdua bertengger di atas pohon belimbing di depan rumahnya. "Ayo wis ndang dientekne blimbinge, sesuk wis pasa, wis gak oleh mangan blimbing nek awan". (Ayo dihabiskan saja belimbingnya, besok sudah puasa, sudah tidak boleh makan belimbing lagi siang hari). Alhasil, belimbing satu pohon pun habis tak bersisa, dari yang sudah matang sampai yang masih kecil juga habis oleh kami.

Dia juga pernah melakukan tindakan bodoh waktu kami kecil. Saat itu awal-awal musim kemarau, jadi sungai di dekat rumah kami baru saja kering. Dan ada lubang sedalam pinggang kami di sungai itu. Kami biasa motas (meracuni ikan memakai potasium) di sana.

Saat itu minggu pagi dan anak-anak seusiaku sudah berencana untuk motas di sana. Kamipun segera meng-ubek-ubek air sungai itu dengan potas. Setelah mendapat ikan lumayan banyak, Bambang masih belum puas dengan hasil tangkapannya. Dia langsung menceburkan diri dan menyelam di air yang sudah mengandung potas tersebut. Ibu-ibu yang melihat kejadian itu berteriak-teriak dan manyuruh Bambang segera naik. Dia pun naik. Tapi apa yang terjadi? Sore hari setelah paginya motas ikan, dia sakit kata neneknya dan di panggilkan mantri kesehatan di desaku. Kata mantri dia mungkin keracunan. Saudara-saudaranya pun segera mencarikan air kelapa muda. Orang-orang yang tahu kejadian pagi harinya pun tertawa sambil berkata, "Wong sing di potas iwake kok sing ngglele sing motas". (Yang diracun ikannya kok yang pusing orang yang ngracun).

Aku juga pernah diajaknya ngasak (mencari sisa-sisa panen bawang merah di sawah). Itu adalah pertama kali aku ngasak bawang merah. Dan pada waktu itu pun aku menyukai kegiatan tersebut.

Kalau bermain layang-layang, pasti anak-anak seusiaku dulu sering membeli atau membuat sendiri dari kertas minyak. Tapi tidak untuk Bambang, dia menggunakan daun Gadung kering yang tulang daunnya lurus, atau kami biasa menyebut godhong gadhung lanang (daun gadung jantan). Tidak untuk diadu dan tidak perlu tinggi-tinggi. Hanya kesenangan yang dia cari saat bermain layang-layang.

Tapi karena sakit paru-paru yang di deritanya, dia tidak bisa bermain sebebas anak-anak lainnya. Dia juga tidak seberuntung anak-anak lainnya. Dia hanya bisa sekolah sampai tamat SMP saja. Setelah itu dia membantu neneknya bekerja di kebun. Tapi karena kondisi fisiknya yang tidak sekuat anak-anak lain, dia sering jatuh sakit. Bahkan setelah dia lulus SMP penyakitnya semakin parah.

Ketika aku lulus SMA, dia semakin kurus dan semakin pucat wajahnya. Beberapa bulan setelah aku tidak ada di rumah, aku mendapat kabar bahwa Bambang telah berpulang. Seketika itu aku meneteskan air mata di dalam kamar kosku. Mungkin saat itu adalah jalan yang terbaik untuknya.

Kenangan-kenangan manis bersamanya masih melekat sampai saat ini. Meski dia sudah tidak berada di sini, tapi dia masih tetap ada dalam ingatanku. Bagiku bukan Norman Kamaru yang menyandang raja Chaiya Chaiya Indonesia. Tapi Bambang "Khan" Irawan.


Tulisan ini diikutkan dalam Kenangan Manis Untuk Giveaway Manis-Manis

Senin, 10 Desember 2012

Terdampar Di Grajagan

Gerajagan Banyuwangi / Raino wengi sing tau sepi / Lanang wadon kang nekani,Ngilangaken susahe ati / Lungguh ring pasir-pasiran, / Sembur-semburan, garedowan / Ambi mangan selodoran, / Lanang wadon uber-uberan 

Mungkin lagu tersebut tidak asing di telinga masyarakat Banyuwangi. Apalagi lagu yang berjudul Grajagan Banyuwangi ini juga sering dinyanyikan oleh orkes-orkes melayu sekarang ini. Sehingga lagu ini juga sudah tidak asing lagi bagi masyarakat luas.

Aku jadi langsung teringat akan pantai Grajagan di kabupaten Banyuwangi saat tetangga sebelah rumah memutar lagu itu di pagi tadi. "Aku pernah ke sana!", itu yang ada di benakku.

Aku memang pernah ke Grajagan, saat itu kalau tidak salah tanggal 12 Desember dua tahun lalu. Setelah sehari sebelumnya aku bersama kawan-kawan dari UKM kesenian di fakultasku diundang ke rumah salah seorang tukang cat  di UKM-ku yang rumahnya Banyuwangi kota. Dia baru saja lulus kuliah. Tasyakuran kecil katanya.

Malam hari setelah makan-makan di rumah tukang cat tadi. Kami diajak menginap di salah satu kawan yang rumahnya di kabupaten Banyuwangi sebelah selatan (lupa nama kecamatannya). Kami tiba di rumahnya sudah cukup malam, karena berangkat dari Banyuwangi kota juga sudah malam.

Setiba di sana kami langsung di ajak makan lagi oleh keluarga kawanku tersebut. Wah ini bukan hanya makan malam, tapi makan sangat malam. Setelah itu kami langsung bertengger di karpet ruang tamunya yang disulap menjadi tempat tidur yang besar.

Keesokan harinya, setelah kami mandi dan gosok gigi (biar bersih dan kinclong). Kami diajak ke sebuah pantai yang kira-kira setengah jam perjalanan naik sepeda motor dari rumahnya. Di sepanjang perjalanan kami jalan berarak-arakan (bukan "arak" beneran karena miras dilarang). Jalan menuju pantai Grajagan dari rumah kawanku sampai ke loket masuk kawasan wisata tergolong cukup lancar. Kami sempat berhenti di sebelah loket untuk menunggu kawan-kawan yang asli Banyuwangi yang pada saat itu ingin ikut juga. Dan kami pun berfoto-foto dahulu, bayar karcis kemudian.

 "Ayo rek, urunan disik kanggo mlebu loket!"

Pose dulu

"Ayo Pak buka palangnya!"

"Nunut foto ya!"

"Apa lihat-lihat?"

Ciii...Luuukkk...Baaa.....



"Tiketnya urusen ya rek! aku taknyantai dulu..."




Setelah kawan yang kami tunggu sudah menampakkan batang hidungnya, kamipun melanjutkan perjalanan mencari kitab suci. Kondisi jalan setelah masuk loket pantai Grajagan agak kurang nyaman. Ini disebabkan banyaknya lubang di jalan yang akhirnya menjadi perjalanan romantis dengan penuh rem. Setelah melewati sepetak hutan, kami pun tiba di lokasi. Kami pun langsung memarkir sepeda motor kami di tempat yang telah disediakaan.

Suasana dan aroma pantai sangat terasa di sana (lha wong tempatnya memang di pantai, ya jelas terasa). Kami segera berjalan menuju pantai.

Baru berjalan beberapa ratus meter. Tiba-tiba sang tukang jepret ingin mengeluarkan senjatanya. Akhirnya jeprat-jepret pun terjadi di sana.








 Kata-kata yang menohok hati kita




Setelah beberapa kali dijepret dengan gaya datar-datar saja, kami pun menuju pantainya. Jeprat-jepret dengan hape pun terjadi ketika kami sudah berada di pantai. Aku lebih memilih berada di gazebo kecil karena matahari bersinar dengan garangnya, takut nanti kulitku yang sudah gelap menjadi gelap total.

Suasana pantai waktu itu tergolong sangat sepi. Karena pengunjung selain kami kami hanya ada beberapa orang saja. Pantai yang dihiasi pasir berwarna abu-abu kehitaman ini termasuk pantai yang indah dengan ombak yang tidak begitu besar pada waktu itu. Pasirnya pun bersih dari sampah-sampah non organik, hanya ada daun dan beberapa ranting pohon dari pohon yang ada di sana.












Setelah puas melihat pemandangan pantai, kami penasaran dengan adanya gua Jepang yang ada di sana dan beberapa Petilasan. Kami pun menuju tempat tersebut.

Setelah berjalan beberapa ratus meter dan sedikit menanjak, kami menemukan lokasi gua Jepang. Kami sempat penasaran bagaimana kondisi di dalam gua Jepang ini. Kami pun memasuki gua tersebut. Setelah masuk, kami baru tahu kalau ini adalah gua sebagai tempat pertahanan pada masa pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Jadi di dalam gua hanya seluas beberapa meter dan ada lubang persegi panjang yang menyerupai jendela. Suasana di dalam gua sangat lembab dan pengap, serta kami tidak bisa berdiri secara tegak karena langit-langitnya agak rendah.










Setelah rasa penasaran kami hilang kami mencoba untuk menyusuri anak tanggga yang melewati bagian atas dari gua. Setelah beberapa anak tangga kami lewati, kami sadar bahwa pemandangan dari sini terlihat sangat bagus. kami bisa melihat hamparan laut, ombak yang menabrak batu karang di bawah kami dan bukit yang berada di kanan pantai. Sungguh pemandangan yang sangat elok dengan berada di sini.
 



 Laut luas, deburan ombak serta bukit yang aduhai...

 "Itu apa ya dik?"




Setelah jeprat-jepret di anak tangga, kami lanjut naik ke atas. Telusur demi telusur, ternyata arah anak tangga yang kami naiki ini hanya memutar saja dan ujung dari jalannya adalah di dekat gua Jepang tadi. Wah....sudah terlanjur penasaran dengan apa yang ada di atas ternyata malah hanya memutar saja. Tapi tak apalah, pemandangan di atas lumayan bagus juga dengan adanya beberapa anak adam dan hawa sedang di mabuk cinta di tempat yang sepi.

Capek dengan jelan kaki, kami langsung menuju dekat tempat parkir untuk sekedar mengistirahatkan pantat yang sedari tadi belum menyentuh sesuatu yang dibuat untuk topangan. Ternyata anak-anak yang tadinya bermain di pantai juga sudah ada di sana dan dengan lahapnya menyantap bakso dan rujak manis ala Grajagan.









Setelah cukup beristirahatnya, kami langsung menuju tempat parkir karena juga langit sudah tidak menunjukkan kebiruannya, awan yang berwarna abu-abu pekat sudah bergantungan. Belum sempat masuk tempat parkir, hujan deras langsung saja menyerbu kami. Alhasil, warung yang berada di depan tempat parkir pun menjadi tempat pelarian kami. Kami berdesak-desakan di dalam warung yang tidak begitu besar. Teh hangat dan kopi menjadi teman waktu itu. Setelah menunggu beberapa lama, hujan masih saja mengguyur pantai Grajagan. Daripada menunggu lama di sana, kami pun memutuskan untuk menerobos hujan. Sebenarnya aku membawa jas hujan, hanya saja kutinggal di dalam tas dan tasku berada di rumah kawanku. Akhirnya kami berbasah-basah ria menuju rumah kawanku.

Sampai di rumah kawanku aku langsung berganti dengan pakaian dan bersiap untuk pulang. Teman-temanku yang lainnya sepakat untuk pulang ke Jember menunggu hujan reda. Tapi karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan nyonya sudah ingin cepat pulang karena besok harus kerja, aku memutuskan untuk pulang saat itu juga. Ternyata ada dua temanku yang ikut pulang juga. Jadi kami berempat langsung pamit pada yang empunya rumah.

Pukul delapan malam kami sudah sampai di Jember dan siap untuk terkapar semalaman.

Suasana banyuwangi terasa sampai di sini dengan alunan lagu Grajagan Banyuwangi....

Gerajagan Banyuwangi,
Raino wengi sing tau sepi
Lanang wadon kang nekani,
Ngilangaken susahe ati

Lungguh ring pasir-pasiran,
Sembur-semburan, garedowan
Ambi mangan selodoran,
Lanang wadon uber-uberan

Gandeng tangan ring pinggiran,
Pinggir pesisir Gerajagan
Bisik-bisik semayanan,
Matri janji urip bareng
Sir-siran ambi gandengan,
Gending asli Banyuwangian

Sabtu, 08 Desember 2012

Setahun berlalu

Sudah di penghujung tahun 2012. Hampir dua belas bulan sudah terlewati. Ternyata banyak juga kejadian-kejadian yang terjadi di tahun ini. Dari peristiwa bahagia, sampai peristiwa sedih karena di tinggal pulang lima saudara untuk selama-lamanya.

Januari terlewati dengan dua peristiwa. Yang pertama berangkatnya seluruh keluargaku ke kota kecil Jember untuk meminta putri orang untukku. Seminggu kemudian adik dari bapak (paklikku) masuk rumah sakit karena serangan stroke, kemudian keesokan harinya beliau meninggal dunia. Kejadian yang sangat tidak terduga. Karena beliau satu minggu sebelumnya masih ikut menemaniku ke Jember.

Februari termasuk bulan yang biasa-biasa saja bagiku. Pada bulan ini aku di pindahtugaskan ke unit baru oleh kantor tempatku bekerja pada waktu itu.

Maret merupakan bulan yang hampir sama istimewanya dengan Januari. Pada bulan ini ditentukannya tanggal pernikahan untukku dengan datangnya rombongan keluarga Nyonya ke Nganjuk. Meskipun pernikahan kami masih satu tahun lagi. Tapi keesokan harinya, kakak ipar dari ibu (pakpuhku) meninggal dunia karena sakit yang sudah diderita selama satu bulan terakhir. Keluargaku sangat terpukul dengan kejadian ini, karena satu hari sebelumnya ada acara ngembalikan lamaran di rumahku.

April terlewati dengan biasa saja, meskipun terdapat kejadian-kejadian yang mungkin akan terus teringat.

Mei adalah bulan dimana budhe dari bapak (nenek) pergi untuk menghadap Sang Pencipta. Sedihpun terasa bertambah lagi pada bulan ini.

Juni kurasa terlewati dengan sangat cepat. Pada bulan ini pula kami keluarga yang ada di Nganjuk mendapat kabar bahwa kakak ipar dari ibu (pakpuh) yang ada di Purwokerto masuk rumah sakit karena serangan stroke.

Juli diawali dengan kabar duka dari budhe yang ada di Purwokerto. Pakpuh meninggal dunia. Hari itu juga kami semua langsung berangkat ke Purwokerto. Beberapa minggu kemudian masuk ke bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan tahun ini jatuh di bulan Juli.  Tapi beberapa hari setelah puasa pertama, aku mendapat kabar bahwa kakak dari ibu (pakpuhku) tertimpa musibah. Beliau tertabrak sepeda motor dan sudah dibawa ke rumah sakit. Alhamdulillah beliau tidak apa-apa. Hanya saja istri beliau langsung terkena serangan stroke ketika mendengar kabar tersebut. Akhirnya tidak hanya pakpuh saja yang masuk rumah sakit, tapi budhe juga masuk rumah sakit dan kondisinya kritis. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, pakpuh boleh pulang. Pada hari yang sama juga budhe juga pulang, tapi tidak pulang ke rumah, melainkan pulang ke Rahmatullah. Kami sekeluarga hanya bisa pasrah kepada takdir yang ada. Hal yang sangat sulit bagi kami waktu itu adalah memberi tahu pada pakpuh tentang kondisi budhe.

Agustus terlewati dengan kenangan manisnya. Di bulan ini nyonya dan calon ibu mertua datang ke Nganjuk. Di bulan ini pula camer bertemu dengan sepupunya yang sudah hampir 25 tahun tidak bertemu. Ternyata sepupunya tinggal di Kediri, hanya setengah jam perjalanan naik sepeda motor dari rumahku. Reuni kecil yang mengharukan.

September berlalu dengan anggunnya.

Oktober pun juga menyapa deengan hangat.

November berjalan dengan rintikan hujannya yang istimewa.

Desember disambut dengan berita bahagia di awal bulannya.

Semoga saja tahun depan kita masih bisa tersenyum untuk dunia. Senyum yang ikhlas dari hati yang tulus. Semua kenangan di tahun ini mungkin akan tetap menjadi kenangan dan merupakan proses pembelajaran untuk menuju kedewasaan bagiku.

Eits......belum saatnya ternyata mengucapkan selamat tahun baru, masih beberapa minggu lagi. Salam.